Rabu, 31 Agustus 2016
Puluhan Buruh Dideportasi Saat Memasuki Bandara Haneda Tokyo
MANIS77 - Puluhan calon buruh migran Negara Jepang asal Kabupaten Tulungagung, Blitar dan Kediri menjadi korban penipuan. Pemerintah Jepang langsung melakukan deportasi begitu mereka menjejakkan kaki di bandar udara internasional Haneda Tokyo. Sebab para warga Indonesia ini diketahui hanya berbekal visa dan paspor kunjungan (wisata). Bukan dokumen untuk bekerja. “Sebelum dipulangkan kami sempat diinterogasi dan diisolasi selama sehari semalam di bandara,“ tutur Sunaryo juru bicara buruh migran korban penipuan Selasa 30 Agustus 2016.
Jumlah korban yang dipulangkan sebanyak 20 orang. Namun dari informasi dihimpun, masih ada korban lain. Jumlah keseluruhan diperkirakan mencapai ratusan orang. Semua calon buruh migran, kata Naryo, termasuk dirinya tidak tahu kalau visa dan paspor hanya berlaku untuk wisata. Sebab mereka merasa telah mengikuti seluruh petunjuk oknum Petugas Lapangan (PL) salah satu Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang berkantor cabang di Pucanglaban Tulungagung dan berpusat di Kabupaten Sidoarjo.
Setiap calon buruh migran juga telah merogoh kocek Rp50-Rp70 juta. Sebagian besar korban merupakan eks TKI dan TKW negara Malaysia dan Taiwan. “Dikatakan bahwa dana itu untuk pengurusan paspor, visa dan uang saku,“ terang Sunaryo yang tertipu bersama dua orang adiknya. Sesuai arahan oknum PJTKI itu, setiap calon buruh migran akan bekerja di pusat pengepakan buah dan pabrik produksi beton. Masing-masing akan menerima gaji Rp25 juta per bulan. “Namun anehnya saat diinapkan di Jakarta selama seminggu sebelum berangkat kita tidak pernah diajari bahasa Jepang.
Katanya terima beres saja langsung kerja. Tidak perlu pakai belajar bahasa,“ paparnya. “Namun anehnya saat diinapkan di Jakarta selama seminggu sebelum berangkat kita tidak pernah diajari bahasa Jepang. Katanya terima beres saja langsung kerja. Tidak perlu pakai belajar bahasa,“ paparnya. Sunaryo dan korban yang lain sudah meminta pertanggungjawaban oknum PL PJTKI. Awalnya mereka berusaha menempuh jalan kekeluargaan. Kalau memang tidak bisa berangkat, mereka meminta uang kembali.
Namun yang bersangkutan justru berusaha menghindar. Selain itu oknum bersangkutan justru menantang korban untuk membawa permasalahan ke jalur hukum. Dan sejak melapor ke polres Tulunggaung bulan Mei 2016 lalu, proses hukum tidak juga berjalan. “Karenanya kami meminta bantuan organsisasi buruh setempat untuk advokasi. Pekan ini rencananya akan mendatangi polres ramai ramai guna meminta penjelasan,“ pungkas Sunaryo.(okezone)
Mirip Ahok, Andrew Dipukuli di Bus TransJakarta
Tyas Mirasih Jualan Nasi Goreng Bareng Pacar
Sepasang Kekasih Dilarang Naik Gunung 10 Tahun
Senin, 29 Agustus 2016
Pelaku Teror Bom Gereja di Medan Mengaku Tidak Hanya Sendirian
MANIS77 - Aparat Kepolisian tengah memburuh pelaku lain dalam aksi teror di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Medan, Sumatera Utara. Berdasarkan keterangan, Ivan Armadi Hasugian, mengaku tidak sendiri dalam menjalankan aksinya. Ia bahkan disuruh oleh seseorang untuk melakukan aksi teror tersebut. "Menurut pengakuan Ivan dia disuruh. Namun sampai saat ini belum terungkap siapa yang menyuruh itu.
Masih dikejar oleh Polresta Medan. Nanti kalau sudah jelas akan kami sampaikan," kata Kasubdit Penmas Humas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan kepada wartawan di Medan, Senin siang, 29 Agustus 2016. Dalam aksi teror ini, Polresta Medan sudah melakukan pemeriksaan saksi sebanyak sembilan orang. Seluruh saksi merupakan jemaat gereja dan keluarga. Sedangkan untuk motif dalam aksi bom bunuh diri yang gagal ini, masih didalami oleh pihak kepolisian.
Sementara itu, dari hasil pengeledahan di rumah pelaku di Jalan Gagak Hitam, Gang Sehati Lingkungan II, Kota Medan, Sumatera Utara, polisi berhasil menyita beberapa barang bukti dari rumah bercat kuning berlantai dua itu. "Barang bukti yang disita dari kediaman tersangka seperti inisiator, senator, kabel kabel, baterai, pipa, tiga potong, paspor dan buku-buku robotik," ujar Nainggolan.
Sejauh ini, polisi telah menetapkan Ivan sebagai tersangka kasus teror bom di sebuah Gereja Santo Yosep, Medan, Sumatera Utara. Pria 18 tahun itu dijerat dengan Undang-undang nomor 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme dan Undang-undang darurat Republik Indonesia nomor 12 tahun 1951 tentang mengubah 'Ordonnantietijdelijke Bijzondere Strafbepalingen' (STBL. 1948 nomor 17) dan Undang-undang Republik Indonesia dahulu nomor 8 tahun 1948, serta KUHP.
"Kepada tersangka dikenakan Undang-undang teroris nomor 15 tahun 2003 kemudian Undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951 tentang senpi dan bahan peledak. Juga KUHP," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Agus Rianto. Diberitakan sebelumnya, Ivan Armadi Hasugian melakukan aksi percobaan bom bunuh diri di Gereja Santo Yosep pada Minggu kemarin sekira pukul 08.00 WIB.
Ia diketahui membawa ransel berisi bom rakitan. Saat kejadian, diduga bom yang dibawa Ivan Armadi Hasugian gagal meledak. Tasnya hanya mengeluarkan percikan api. Karena itu, Ivan pun mengeluarkan senjata tajam dan menyerang pastor yang bernama Albert Pandingan. Jemaat pun panik, beberapa berhamburan dan lainnya berupaya menghentikan perbuatan Ivan.
Beruntung bom tidak meledak dan Ivan pun berhasil dilumpuhkan lalu diserahkan ke polisi. Sementara itu, untuk jenis peledak dalam aksi teror itu masih dalam proses penyidikan oleh tim Labotorium Forensik (Labfor) Polda Sumut. Termasuk, pelaku masih dilakukan pemeriksaan secara maraton hingga saat ini oleh penyidik Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polresta Medan.(viva)
Kawasan Gondangdia Jakarta Marak Kriminalitas
Anak SMA Berhubungan Badan di Tengah Pesta Tuak
Beyonce Borong Tujuh Penghargaan MTV 2016
Minggu, 28 Agustus 2016
Bandara Sugapa Intan Jaya Papua Dipalang, Komunikasi Diputus Massa
MANIS77 - Ratusan massa memalang bandara Sugapa Intan Jaya Papua, Sabtu, 27 Agustus. Aksi itu buntut dari adanya warga yang tewas tertembak. Bukan hanya bandara, jaringan Telkomsel juga dimatikan warga, sehingga Intan Jaya kini dalam kondisi terisolir. Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw membenarkan adanya aksi ratusan warga melakukan pemalangan bandara Sugapa. "Setelah membakar Polsek Sugapa, warga melakukan pemalangan bandara, mereka kemungkinan keluarga korban," ujarnya.
Kapolda melanjutkan, warga juga mendatangi menara Telkomsel, lalu mematikan jaringannnya, sehingga Sugapa saat ini terisolir lantaran jaringan komunikasi terputus. Paulus menuturkan, pihaknya hingga kini belum mengetahui secara pasti penyebab anggota Brimob melakukan penembakan, yang berakibat meninggalnya salah satu warga. Sebab, komunikasi terputus."Karena keterbatasan jaringan, kami tidak bisa mendapat laporan lengkap," tuturnya.
Adapun langkah yang sudah dilakukan, Kapolda menjelaskan, sudah memerintahkan Kapolsek setempat bersama Bupati Intan Jaya untuk menangani kasus tersebut. "Kami sudah minta semua pihak, baik pemerintah dan tokoh agama untuk ikut menenangkan warga, sedangkan kami sendiri akan terbang ke sana, besok minggu," kata dia.
Adapun kronologis kejadian, dia menjelaskan, berawal dari pemalangan jalan yang dilakukan oleh anak laki-laki, yang merupakan anak kepala suku di Kabupaten Intan Jaya, dalam keadaan dipengaruhi minuman keras sambil membawa parang dan melakukan pengancaman. Akibatnya, anggota Brimobda Papua yang di bawah kendali operasi (BKO) di Intan Jaya menuju TKP untuk mengamankan situasi dan pelaku pemalangan tersebut. "Pada saat itu, anggota Brimob melakukan penembakan yang menyebabkan pelaku pemalangan meninggal," ujarnya.
Jenazah kemudian dibawa ke Mapolsek Sugapa oleh masyarakat, dan masyarakat melakukan penyerangan terhadap Mapolsek dengan cara membakarnya. "Setelah membakar Polsek, massa kemudian memalang bandara dan mematikan jaringan telepon," ujar dia. Paulus mengatakan, pihaknya akan menambah personel guna mengendalikan situasi dan melokalisir tempat kejadian.(Viva)
Shah Rukh Khan Daftar Aktor Termahal Dunia
Brantas Narkoba, Bocah 5 Tahun Tewas Ditembak
Mengugat Tuhan, Karena Merasa Hidup Tidak Adil
Sabtu, 13 Agustus 2016
Banjir Melanda Cilacap, Sebanyak 200 Warga Terisolir
MANIS77 - Bencana banjir yang melanda Desa Brebeg, Jeruklegi, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng), mengakibatkan sekira 75 kepala Keluarga (KK) dengan 200 jiwa, warga Dusun Cirokol terisolir. Selain itu, sejumlah pohon peneduh di Jalan Tentara Pelajar, Kota Cilacap tumbang akibat dihembus angin kencang.
"Peristiwa itu terjadi akibat hujan lebat disertai angin kencang Jumat malam hingga Sabtu pagi," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Tri Komara Sidhy. Tri mengatakan, tinggi genangan air pada akses jalan yang ada antara 40-60 sentimeter. Kondisi itu menyebabkan kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil tidak dapat melintas di jalan tersebut.
Hingga Sabtu, hujan lebat masih mengguyur wilayah Tengah dan Selatan Cilacap, sehingga pihaknya telah menerjunkan Tim SAR gabungan dengan perahu karet untuk mengevakuasi warga lainnya. "Untuk pohon tumbang di Jalan Tentara Pelajar sudah dibersihkan, dan lalu lintas sudah lancar kembali," ujarnya.
Sementara, pengamat Cuaca dari Stasiun Meteorologi Cilacap, Teguh Wardoyo mengatakan, dari hasil evaluasi curah hujan yang terjadi Jumat malam hingga Sabtu pagi, tercatat di wilayah Jeruklegi atau Pos Bandara Tunggul Wulung mencapai 139 mm/hari. Sedang di Stasiun Meteorologi (Stamet) Cilacap 102 mm/hari, sehingga termasuk kategori hujan ekstrem. Sementara, kecepatan angin yang bertiup dari arah Timur tercatat sempat mencapai 21 knot.(Okezone)
Pengen Bikin Teman Wanitanya Klepek-Klepek
Dicky Chandra Maju Jadi Walikota Tasikmalaya
Sibuk Berponsel Ria, Mengemudi Pakai Kaki
Kamis, 11 Agustus 2016
Puluhan Calon Jamaah Umroh Tertipu Biro Travel
MANIS77 - Puluhan calon jamaah umroh tertipu biro travel dan umroh, Nazuuroh, Kota Tegal, Jawa Tengah. Mereka tak kunjung diberangkatkan kendati sudah membayar biaya dengan total mencapai ratusan juta rupiah. Beberapa di antara calon jamaah yang tertipu Rabu 10 Agustus 2016 mendatangi kantor Nazurooh yang berada di kompleks ruko Sultan Agung, Kejambon untuk menuntut pengembalian uang yang sudah dibayarkan.
Namun mereka justru terkatung-katung lantaran tak ditemui pengelola Nazuuroh. Salah satu calon jamaah, Alok Sugito (52) menuturkan, ia mendaftar untuk berangkat umroh bersama istri, anak, dan menantu pada Maret lalu. Setelah membayar biaya sekitar Rp95 juta, ia dijanjikan berangkat pada akhir Mei. "Ternyata sampai akhir Mei tidak jadi berangkat. Katanya mundur. Alasannya visa belum jadi. Mau puasa, diberitahu mundur lagi. Sampai tiga kali mundur.
Sampai sekarang tidak jelas kapan berangkat," kata warga Kelurahan Margadana, Kecamatan Margadana, Kota Tegal ini, Rabu (10/8/2016). Lantaran merasa tertipu, Sugito akhirnya melaporkan pengelola Nazuuroh ke Polres Tegal Kota pada pertengahan Juni lalu. Pihak pengelola lalu membuat perjanjian dan mengembalikan biaya yang sudah dibayar namun tidak seluruhnya. "Baru dikembalikan Rp8 juta.
Itu juga diberikan dalam dalam dua tahap. Katanya sisanya mau dikembalikan 15 Agustus," ucap Sugito. Sugito mendesak pengelola untuk segera mengembalikan sisa biaya yang sudah disetorkan tersebut. "Daripada mundur terus, tidak jelas. Saya juga sudah mengeluarkan biaya untuk syukuran dengan tetangga-tetangga. Malu," ungkapnya.
Selain Sugito, sebanyak 48 orang calon jamaah umroh yang dikoordinir Syaefudin, warga Kelurahan Margadana, untuk mendaftar secara kolektif di Nazuuroh juga mengalami nasib serupa. "Yang daftar melalui saya ada 48 orang. Sudah bayar semua. Tapi yang sudah diberangkatkan baru 23 orang. Itu juga berangkatnya karena biayanya saya talangi dulu karena saya malu dengan jamaah saya," ujar Syaefudin.
Calon jamaah yang dikoordinir Syaefudin sudah membayar biaya sebesar Rp 24 juta per orang. Seharusnya mereka berangkat pada 27 Maret lalu. Namun kemudian mundur hingga empat kali dengan alasaan yang sama, yakni visa belum jadi. "Kalau sudah mundur sampai tiga kali, berarti sudah tidak bisa dipercaya," tandasnya.
Sementara itu Direktur PT Nazuuroh Ijabah Utama, Irawan Prasetya tak kunjung menemui Sugito dan Syaefudin saat ditunggu hingga siang hari. Saat dihubungi, dia mengku sedang berada di Pekalongan. Dia kembali menjanjikan akan segera mengembalikan biaya yang sudah dibayar.(sindo)
Yang Pukul Guru Ditetapkan Sebagai Tersangka
Rossa Menbantah Isu Telah Menikah
Astagfirullah! Wanita AS ini Setubuhi Anj*ng
Rabu, 10 Agustus 2016
Penumpang Pesawat Bawa Mayat Bayi Dalam Koper Diamankan
MANIS77 - Hendak membawa mayat bayi berusia tiga hari yang diletakkan di dalam tas koper, seorang penumpang pesawat diamankan petugas Avsec dan Polsek KP3 Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, Papua Barat, Senin (8/8/2016) pagi.
Jai, penumpang pesawat jurusan Sorong-Makassar diamankan setelah pihak Avsec bandara menemukan adanya benda mencurigakan yang saat dicek ternyata adalah mayat bayi berusia tiga hari.
Menurut keterangan petugas Avsec Bandara DEO Sorong Umar Latif, digagalkannya pengiriman mayat bayi tanpa prosedur oleh penumpang tujuan Makassar ini saat koper yang dibawa calon penumpang diperiksa melalui x-ray bandara.
Saat diperiksa, ternyata di dalam tas koper tersebut adalah mayat bayi yang diperkirakan berusia tiga hari. Pihak Avsec Bandara DEO Sorong melaporkan temuan tersebut ke pihak kepolisian untuk mengamankan calon penumpang dan mayat bayi di dalam koper tersebut.
Jai saat ini masih diperiksa secara intensif di Satuan Reskrim Polresta Sorong. Sementara, mayat bayi diamankan di Mapolresta Sorong, lalu dibawa ke RSUD Sorong.(sindo)
Komplotan Copet Dipajang di Stasiun Manggarai
Setelah Lima Tahun Menanti, Alice Norin Hamil
Dompet Dicuri, Turis Cina Dimasukkan ke Kamp
Senin, 08 Agustus 2016
Usai Dimintai Keterangan BNN, Eks Kalapas Enggan Berkomentar
MANIS77 - Usai dimintai keterangannya selama tiga jam oleh pihak Badan Nasional Narkotika (BNN), mantan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Liberti Sitinjak, enggan berkomentar panjang. Ia mengatakan hanya menyampaikan apa yang ditanyakan kepada dirinya selaku mantan Kalapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
"Saya telah memenuhi panggilan. Selama di ruangan, kita sudah bisa selesaikan hal yang patut saya sampaikan selaku mantan Kalapas Nusakambangan," kata Sitinjak di Gedung BNN, Jalan MT Haryono, Jakarta Timur, Senin (8/8/2016). Saat awak media menanyakan lebih mendalam mengenai pertemuannya, Sitinjak memilih melakukan koordinasi dengan pimpinannya terlebih dahulu.
Dia tidak bisa membeberkan hasilnya sebelum melakukan komunikasi kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yassona Laoly. "Jangan tanya soal substansi apa yang bicarakan di dalam, karena saya belum bisa sampaikan, harus lapor dulu ke pimpinan. Saya hanya mengimbau tentang apa pembicaraan saya, biar pihak BNN yang jelaskan dan Pak Menteri," tutur Sitinjak.
"Habis ini saya ke Menteri untuk laporan, karena kedatangan saya ke sini atas perintah Menteri. Substansi apa, saya belum sampaikan kepada Pak Menteri sehingga saya belum bisa memberikan keterangan apa pun," imbuhnya. Sitinjak sendiri diminta datang ke BNN untuk dimintai keterangan sebagai tindak lanjut surat terbuka Haris Azhar dari Kontras.
Dalam pernyataan tersebut sang terpidana mati Freddy Budiman menyebutkan ada petugas lapas yang menerima aliran dana sebanyak Rp450 miliar. Sementara Kepala Humas BNN Kombes Slamet Pribadi mengatakan, pemanggilan dilakukan untuk menggali keterangan dari Sitinjak terkait pernyataan Freddy Budiman soal CCTV di dalam lapas. "Ini sifatnya hanya konfirmasi. Jadi, pemeriksaan non projustisia," ujarnya.(okezone)
Polda Metro Bekuk Arsitek Pemalsu Dolar Singapura
Shah Rukh Khan Masuk Daftar Orang Kaya Versi Forbes
Semangka Jadi Laris, Setelah Diberi Ukiran Kaligrafi
Langganan:
Postingan (Atom)






