Sabtu, 30 Juli 2016

Haris Azhar : Saya Bertanggung Jawab Penuh Atas Tulisan 'Cerita Busuk Dari Seorang Bandit'.


MANIS77 - Sejumlah pihak meminta Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, membuktikan tulisannya yang berjudul 'Cerita Busuk dari Seorang Bandit'. Namun, Haris mengaku tak punya kewajiban untuk melakukannya. "Kalau saya dibebankan, saya tidak disupport fasilitas negara untuk pembuktian.

Ada petunjuk lain yang bisa dikembangkan. Ada banyak nama, ada penggambaran tempat, itu menunjukkan informasi-informasi tambahan," kata Haris di kantor Kontras, Senin, Jakarta Pusat, Jumat, 29 Juli 2016. Namun, Haris menegaskan bertanggung jawab penuh atas apa yang ia tulis tersebut. "Saya sengaja pakai metode viral dan sudah diposting di web Kontras. Itu resmi dan saya tanggung jawab penuh atas tulisan tersebut," tegasnya. Haris mengaku baru menulis tulisan yang kini menjadi kontroversi pada Senin, 24 Juli 2016.

Namun, data dari tulisan itu dia dapat pada 2014 silam. Saat itu, ia diajak seorang rohaniawan bernama suster Yani ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dan akhirnya sempat berbincang dengan beberapa terpidana mati, yang salah satunya adalah terpidana mati kasus narkoba, Freddy Budiman yang baru saja menjalani eksekusi mati jilid III.

"Tulisan tersebut, saya bikin, baru pada hari Senin berapa hari yang lalu awal minggu ini. Tapi tulisan tersebut, saya susun dengan data yang saya dapati pada tahun 2014 di tengah masa kampanye Pemilihan Presiden (Joko Widodo)," tuturnya. Sebelumnya diberitakan, Freddy menjadi satu dari empat terpidana mati kasus narkoba yang dieksekusi mati di Lapas Nusakambangan dini hari tadi.

Freddy, menjadi satu-satunua warga negara Indonesia yang dieksekusi mati tahap III. Namun, jelang detik-detik eksekusi, Haris memposting tulisan yang mengejutkan publik di Tanah Air. Tulisan itu dimuat di akun resmi Facebook maupun Twitter Kontras. Kesaksian itu berjudul 'Cerita Busuk dari Seorang Bandit'.(Viva)

Sederetan Model Yang Pernah Dikencani Freddy Budiman
DJ Soda Bakal Bikin Kejutan di Pantai Karnaval Ancol
US Navy Beri Gelar 'Pokemon Master' Bagi Prajurit Baru 




Kamis, 28 Juli 2016

Pria ini Melapor Jadi Korban Perampokan, Malah Ditangkap Polisi


MANIS77 - Kebodohan yang dilakukan Rudi Hartono (29), warga Jalan Tegal Binagun Lorong Karang Anyar, Kelurahan Plaju Darat, Kecamatan Plaju, Palembang ini, berbuah petaka. Sebab, lantaran tak mampu membayar angsuran kredit sepeda motornya, tersangka nekat membuat laporan palsu ke Mapolsek Mariana dengan mengaku menjadi korban perampokan, agar terhindar dari kejaran dept collector.

Kapolsek Mariana AKP Nazirudin menerangkan, penangkapan terhadap tersangka dilakukan setelah pihaknya menemukan bukti-bukti adanya kejanggalan dari laporan yang dibuat tersangka. Dimana sebelum membuat laporan palsu itu, tersangka lebih dahulu membuat skenario jika dirinya sudah menjadi korban perampokan yang dilakukan oleh dua pemuda bersenjata tajam saat melintas di Dusun Talang Bali, Desa Sungai Rebo, Kabupaten Banyuasin, pada Rabu 20 juli 2016 lalu.

Saat semua skenario itu dirasakannya aman, akhirnya pada Jumat 22 Juli 2016, tersangka membuat laporan ke Polsek Mariana. "Dari laporan tersangka itulah kita langsung mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang disebutkan tersangka. Kita lakukan penyelidikan di sana," ungkap Kapolsek. Rupanya, kata Kapolsek, dari hasil penyelidikan itu terungkap jika laporan yang dibuat tersangka ternyata palsu. "TKP yang disebutkan tersangka merupakan pemukiman yang ramai.

Dari situlah timbul kejanggalan, apalagi menurut keterangan warga setempat tidak ada kejadian perampokan itu," terangnya. Mendapati kejanggalan itu, Polisi akhirnya menginterogasi tersangka secara intensif. Setelah dicecar sejumlah pertanyaan, akhirnya tersangka mengaku jika laporan yqng dibuatnya itu palsu. "Sebelum membuat laporan palsu itu, sepeda motor itu dijualnya ke seseorang berinisial L yang tidak jelas keberadaannya seharga Rp2,8 juta.

Namun setelah dilakukan penelusuran, sepeda motor itu kita temukan di kediaman salah seorang temannya," jelasnya. Dikatakan Kapolsek, tersangka kini masih menjalani pemeriksaan pihaknya. "Barang bukti yang kita amankan berupa laporan palsu, Bukti Berita Acara (BAP) dan sepeda motor BG 6531 AAL milik tersangka. Tersangka diancam dengan pasal 242 tentang keterangan palsu dengan ancaman 7 tahun penjara," tukasnya.

Sementara itu, tersangka Rudi mengaku aksi nekat itu dilakukannya lantaran terlilit hutang kepada tetangganya. Atas dasar itulah tersangka nekat membuat keterangan palsu di Mapolsek Mariana dengan harapan akan mendapatkan uang asuransi dari leasing. "Kredit motor itu masih 1,5 tahun lagi. Sudah tidak bisa bayar lagi. Makanya saya lakukan itu. Motornya saya jual, uangnya untuk bayar utang dan biaya hidup sehari-hari," pungkas pemuda pengangguran ini.(Sindo)

Losmen Dirazia, Mahasiswi, PNS dan Kepala Desa di Ciduk
Beyonce Dominasi Nominasi MTV Video Music Awards
Petugas Imigrasi Menulis 'Fu*k You' Dipaspor Turis 




Rabu, 27 Juli 2016

Polisi Menendang Pengendara Hingga Tewas, Ribuan Warga Mengamuk


MANIS77 - Warga dari dari Nagari Muaro, Padang Laweh, Padang Laweh Selatan, dan Tanjung Ampalu, mengamuk dengan melempari Mapolres Sijunjung, Sumatera Barat, dengan batu akibat saat razia yang dilakukan berakibat satu pengendara tewas. Menurut Hasbi Hanif, salah satu warga yang ikut demo mereka berkumpul di depan markas Polisi Sijunjung sekitar pukul 14.00 WIB. Ribuan orang mengamuk dan melempari kantor Kepolisian Resor Sijunjung, akibatnya beberapa bagian mengalami kerusakan.

"Ada sekitar 1.500 masa dari lima nagari yang menyerbu Polres," ujarnya, Selasa (26/7/2016). Hasbi mengatakan, kemarahan massa terjadi karena ada salah seorang warga Nagari Muaro diduga ditendang anggota Polres saat razia Senin malam kemarin. Warga tersebut dikabarkan meninggal dunia. Warga Nagari Muaro menuntut Polres Sijunjung bertanggung jawab atas peristiwa itu. Apalagi sebelumnya polisi sering melakukan razia malam hari tanpa aturan yang jelas.

"Ini puncaknya. Razia diduga menyebabkan warga meninggal dunia. Polres harus bertanggung jawab," ujarnya. Namun, akhirnya warga mundur karena polisi melepaskan tembakan peringatan puluhan kali dan menyemprotkan gas air mata. Akibatnya, beberapa warga terluka. "Kami mundur dan berkumpul di beberapa titik. Kini warga menyerang pos-pos polisi di persimpangan," ujarnya. Menurut laporan warga yang meninggal itu bernama Alan Wahyudi (15) warga Kecamatan Sijunjung.

Wakapolda Sumatera Barat Konbes Pol Nur Afiah membantah adanya anggota Polres menendang saat razia, ia mengatakan bahwa saat razia korban ini kabur karena tidak memakai helm, kemudian petugas mengejar karena takut dia menabrak pembatas jalan. “Tadi malam razia helm, salah satu warga enggak pake helm kemudian dikejar, pelaku ini ngebut jatuh nabrak trotar. Bukan ditendang, tapi dikejar karena dia ngebut ketakutan tabrak trotar jatuh, gimana cara nendang sedang mengebut,” jelasnya.(Okezone)

Jackie Chan Dibekuk Polisi Bersama Komplotannya 
Nyanyikan Lagu kebangsaan, Sunny Leone Dilaporkan 
Ada Tunas Jambu Tumbuh Dari Balik Gigi Pria Ini






Senin, 25 Juli 2016

Pengungsi Gunung Sinabung Menolak Relokasi dan Siap Perang


MANIS77 - Mengantisipasi kemungkinan akan terjadi perang antar warga yang menolak rencana relokasi pengungsi letusan gunung Sinabung, puluhan personel polisi dari Polres Karo dan prajurit TNI dari Kodim 0205/TK hadir di antara ratusan orang-orang Desa Budaya Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Jumat (22/7).

“Kami mengibarkan bendera merah di sini untuk bersiap-siap mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi, meski harus terjadi konflik sekalipun,” tegas warga Budaya Lingga yang berkumpul di lokasi yang rencananya dijadikan sebagai lahan relokasi mandiri tahap kedua. Warga Budaya Lingga menolak rencana relokasi pengungsi dengan dalih mempertahankan jalan desa yang menjadi batas lahan tersebut.

Jalan yang diperkirakan sepanjang 200 meter itu dipagari dengan potongan bambu dan dipasangi kawat berduri. Menurut warga, jalan itu merupakan jalan tembus ke desa mereka dan sudah ada sejak puluhan tahun lalu. “Jalan ini dulu pertama kali menjadi akses masuk menuju desa kami. Ini milik warga desa, makanya kami pagari. Ini akan tetap kami pertahankan,” seru warga di lokasi.

Mereka meminta agar pihak berwenang segera memproses persoalan tanah itu sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. “Silahkan diproses dengan benar. Apakah mereka mempunyai alas hak tanah yang sah. Jika ada silahkan ditunjukkan, maka kami semua akan mundur,” cetus warga. Warga juga meminta agar sejumlah alat-alat berat yang digunakan untuk meratakan tanah di lahan tersebut dihentikan pengoperasiannya.

Permintaan itu, kata mereka, guna mengantisipasi terjadinya amarah warga yang masih bersikukuh menolak rencana relokasi itu. Sebelumnya, Kamis (21/7), warga Desa Budaya Lingga juga nyaris terlibat bentrok dengan Tim Pendamping Relokasi Mandiri (TPRM) saat dilakukan verifikasi data lahan di lokasi yang sama. Menurut keterangan Kepala TPRM, Thoib Subhanto sebelumnya, ini merupakan lanjutan verifikasi bagi masyarakat Desa Guru Kinayan.

Dimana, tiga lokasi sudah direncanakan sebagai lahan relokasi diantaranya Simpang Nang Belawan Kecamatan Simpang Empat, Desa Lambar Kecamatan Tiga Panah dan Desa Gajah Kecamatan Simpang Empat. “Hari ini selain melakukan verifikasi data lahan, kita juga melaksanakan pengisian form untuk melengkapi data bagi masyarakat yang akan di relokasi mandiri. Meski diawali kegagalan di Desa Lingga, hari ini dilanjutkan untuk tiga lokasi lainnya,” jelasnya.(metrosiantar)

Diiming Baju Baru, ABG Diperkosa Pemilik Kontrakan
Calvin Harris & Kim Kardashian Rayakan Ulang Tahun Jlo
Asyik Berburu Pokemon, Tak Sadar Masuk ke Negara Lain 




Sabtu, 23 Juli 2016

Pantai Parangtritis Jadi Lokasi Berburu Monster Pokemon Go



MANIS77 - Wabah game Pokemon Go kini merambah sampai Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Yang menarik, obyek wisata seperti Pantai Parangtritis, kini jadi tempat berburu monster Pokemon Go. Hal itu diungkapkan Komandan Sar Pantai Parangtritis, Ali Sutanto. Ia mengatakan semenjak game Pokemon Go ‘meledak’ dan banyak diunduh pengguna smartphone, kawasan wisata Parangritis banyak dikunjungi pemburu monster Pokemon Go.


"Ada tempat yang digunakan berburu yaitu sekitar Posko Sar, ikon Pantai Parangtritis dan Tugu Jenderal Besar Sudirman," kata Ali, Sabtu 24 Juli 2016. Para pemburu monster Pokemon Go ini biasanya berburu di saat petang hingga malam hari sehingga saat malam hari di kawasan Pantai Parangtritis juga ramai wisatawan pemburu Pokemon Go. "Kalau siang hari ada namun jumlah sedikit," ungkapnya.


Dari tiga lokasi yang banyak ditemukan monster Pokemon Go tidak ada yang dilarang untuk berburu terkecuali harus masuk ke Posko SAR. "Ya, kalau masuk posko SAR jelas dilarang. Akan mengganggu kerja Tim SAR yang sedang tugas," ujarnya. Henry anggota SAR Pantai Parangtritis mengaku para pemburu Pokemon Go kebanyakan anak-anak muda mulai dari SMP hingga SMA bahkan yang sudah kuliah. "Rata-rata pemburu monster Pokemon Go adalah remaja yang tentunya punya smartphone," ucapnya.


Bagi wisatawan yang hanya berburu Pokemon Go justru tidak menambah kerja anggota SAR karena mereka dipastikan tidak mandi di laut hanya berkeliling di seputaran pantai. "Nah, masalahnya kalau sampai ke bibir pantai berburu monster Pokemon Go. Itu baru masalah bagi anggota SAR," ujarnya.

Hanry tak tahu jenis monster Pokemon Go jenis apa saja yang dapat ditemui oleh gamer di sekitar Pantai Parangtritis. "Saya tidak tahu berapa jumlah monster Pokemon Go dan namanya apa saja. Wong saya tidak unduh aplikasi game Pokemon Go," ujarnya.(Viva)

Karyawan Money Changer Dirampok di Cideng
Selena Gomez Selfie dengan Fans di Grand Indonesia
Tidak Capai Target, Karyawan di Hukum Makan Pare 




Rabu, 20 Juli 2016

Gedung Sekolah Disegel Pemilik Lahan, Puluhan Siswa Terlantar


MANIS77 - Merasa kesal terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang lantaran tak kunjung mendapatkan ganti rugi lahan, Moh Sa'id, warga Desa Pengarengan Kecamatan Pengarengan, melakukan penyegelan terhadap gedung SD Negeri Gulbung IV Kecamatan Pengarengan. Dampak dari penyegelan tersebut, puluhan siswa terpaksa tidak bisa memasuki ruang kelas untuk melakukan proses kegiatan belajar mengajar.

"Terpaksa kami segel karena belum ada penyelesaian yang kongkrit dari pihak Pemerintah Kabupaten Sampang. Padahal sejak Tahun 2013 silam, kami sudah penyampaikan ke pihak sekolah maupun ke Dinas Pendidikan Sampang, namun sampai saat ini belum ada penyelesaian," terang Moh. Sa’id, pemilik lahan saat dikonfirmasi terkait penyegelan tersebut, Kamis (21/7/2016). Tak hanya itu, Moh. Sa'id, juga mengaku pernah mengajukan ganti rugi kepada pemkab.

Sebab, bangunan gedung sekolah tersebut sudah berdiri semenjak Tahun 1975 silam. Namun, hingga saat ini belum ada titik terang ganti rugi lahan. "Meskipun bangunan sekolah ini mau roboh, tidak boleh direhap, selama kami belum menerima ganti rugi," tegasnya.

Sementara itu, Akhmad Muhtadin, Kepala Sekolah SDN 4 Gulbung mengatakan, penyegelan ini akan disampaikan kepada pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang secepatnya. "Sementara ini kami hanya akan membuat laporan atas kejadian penyegalan tersebut. Kemudian, untuk menampung siswa agar tetap bisa belajar kami sudah melakukan komunikasi dengan para wali murid," pungkasnya.

Sekedar diketahui, pasca libur panjang dan cuti bersama Idul Fitri kemarin, aksi penyegelan lahan dan bangunan gedung sekolah di Kabupaten Sampang, sudah terjadi dua kali. Yang pertama SDN Paopae Laok Kecamatan Ketapang dan yang kedua SDN Gulbung IV Kecamatan Pengarengan.(beritajatim)

Istri Sewa Pembunuh Bayaran Habisi Suaminya
Pitbull Bantah Mendukungan Donald Trump
Bersin Sehari 8000 Kali,Tanpa Diketahui Sebabnya




Selasa, 19 Juli 2016

Polda Sulteng Memastikan Teroris Santoso dan Muchtar Tewas


MANIS77 - Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah memastikan satu jasad yang tewas dalam penyergapan di Tambarana, Poso Pesisir Utara, Poso, adalah gembong teroris Santoso. Kepastian ini didapat setelah dilakukan identifikasi luar terhadap jasad tersebut. "Kita sudah selesai identifikasi luar.

Dari ciri-ciri dan tentang DPO ini, kemudian kita lakukan identifikasi luar," kata Kepala Operasi Tinombala 2016, Kombes (Pol) Leo Bona Lubis, di Poso, Selasa 19 Juli 2016. Selain itu, dari pembenaran kerabat juga dapat dipastikan jasad itu adalah Santoso.

Sementara satu jasad lainnya adalah Muchtar, anggota dari kelompok Santoso, bukan Basri yang sebelum diinformasikan tewas. "Untuk sementara dari identifikasi luar dapat disimpulkan dua jenazah adalah Santoso dan DPO atas nama Muchtar," katanya.

Sementara untuk lebih memastikan siapa dua jenazah, Polda Sulteng akan melakukan tes DNA yang akan dikuatkan dengan data pembanding dari keluarga yang bersangkutan. "Kita harus melakukan identifikasi lain, dengan tes DNA. Kita mencoba mendatangkan keluarga,” kata dia.(Viva)

Menghamili Saudaranya, Pemuda Disekap dan Diperas
Gebby Vesta Posting Foto Bugil di Instagram
Pemain "Pokemon Go" Kembali Temukan Mayat